Friday, December 29, 2017

Mengapa Hanya 20 Sifat Allah?

0 comments

Di antara konsep akidah Ahlussunah wal Jamaah yang paling populer adalah konsepsi sifat ketuhanan Allah yang wajib diketahui oleh orang yang beriman, yaitu 20 sifat yang wajib bagi Allah. Konseptor utama dari konsep 20 sifat ini adalah Imam al-Asyari, yang kemudian dijadikan nama untuk madzhab teologi, yakni madzhab Asyari.
Konsepsi sifat wajib 20 bagi Allah oleh Imam Asyari sangat diterima oleh sebagian besar umat Islam dan hingga kini tetap menjadi pegangan pengikut Ahlussunnah wal Jamaah. Hingga kemudian, konsepsi ini dipertanyakan oleh sebagian kelompok belakangan, karena menurut mereka dalam al-Quran dan hadis tidak ditemukan penjelasan mengenai sifat 20 dan bahkan Asmaul Husna saja jumlahnya 99, sehingga mengapa hanya 20 sifat?
Perlu diketahui, sebenarnya ulama Ahlussunnah wal Jamaah tidak membatasi sifat-sifat kesempurnaan Allah dalam 20 sifat, karena menggambarkan kesempurnaan Allah sebagai tuhan tidak cukup dibatasi oleh segelintir sifat tersebut. Setiap sifat kesempurnaan yang layak bagi keagungan Allah, sudah barang tentu Allah wajib memiliki sifat tersebut, bahkan 99 sifat dalam Asmaul Husna tidak cukup untuk menggambarkan kesempurnaan Allah. Dalam riwayat al-Baihaqi, misalnya disebutkan:
وَقَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم « إِنَّ للهِ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ اِسْمًا » لاَ يَنْفِيْ غَيْرَهَا ، وَإِنَّمَا أَرَادَ وَاللهُ أَعْلَمُ أَنَّ مَنْ أَحْصَى مِنْ أَسْماَءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ اِسْمًا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Sabda Nabi, Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, tidak menafikan nama-nama lainnya. Nabi hanya bermaksud—dan Allah lebih mengetahui—bahwa barang siapa yang memenuhi pesan-pesan sembilan puluh sembilan nama tersebut akan dijamin masuk surga.” (al-Baihaqi, al-Itiqad ana Madzhab al-Salaf, hal. 14).
Pernyataan al-Baihaqi di atas didasarkan pada hadits shahih:
عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ، قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم اللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ بَصَرِيْ، وَجَلاَءَ حَزَنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ
“Ibn Masud berkata, Rasulullah bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya aku hamba-Mu, aku memohon dengan perantara setiap nama yang Engkau miliki, baik Engkau namakan Dzat-Mu dengan-Nya, atau Engkau turunkan nama itu dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang di antara makhluk-Mu, dan atau hanya Engkau saja yang mengetahui-Nya secara ghaib, jadikanlah al-Quran sebagai taman hatiku, cahaya mataku, pelipur laraku dan penghapus dukaku.” (HR. Ahmad, Ibn Hibban, al-Thabarani dan al-Hakim).
Dari itu, membatasi sifat wajib bagi Allah hanya 20, atau bahkan 99 tidak cukup menilai dan mengetahui kesempurnaan Allah sebagai tuhan, karena sifat Allah lebih dari itu semua. Akan tetapi, perlu diingat bahwa perumusan ulama atas sifat wajib Allah menjadi 20 adalah dalam rangka membentengi akidah dan keimanan umat. Sebab, setiap orang yang beriman harus memiliki keyakinan formal yang harus tertanam dengan kuat dalam hati sanubari setiap orang yang beriman agar keimanan mereka tidak goyah. Rumusan aqaid 50 yang di antaranya adalah sifat wajib 20 dirasa cukup oleh ulama untuk dijadikan benteng keimanan oleh umat.
Titik poin dari benteng aqaid 50 adalah setiap mukmin harus meyakini bahwa Allah wajib memiliki semua sifat kesempurnaan yang layak bagi keagungan-Nya dan mustahil bagi-Nya memiliki sifat kekurangan yang tidak layak bagi keagungan-Nya. Di samping itu, ia harus meyakini bahwa Allah boleh (jaiz) melakukan atau meninggalkan segala sesuatu yang bersifat mungkin seperti menciptakan, mematikan, menghidupkan dan lain-lain.
Menyangkut sifat Allah tersebut, ulama kemudian membaginya menjadi dua, yakni shifat adz-Dzat dan shifat al-Afal. Perbedaan antara keduanya, shifat adz-Dzat merupakan sifat-sifat yang menjadi sarat mutlak ketuhanan Allah (syarth al-Uluhiyyah) yang di antaranya sifat 20, sehingga wajib bagi Allah, yang sekaligus kebalikan dari sifat tersebut adalah mustahil bagi Allah. Ulama juga menetapkan bahwa shifat adz-Dzat ini bersifat azal (tidak ada permulaan) dan baqa (tidak berakhiran).
Berbeda dengan shifat al-Afal, ketika Allah memiliki salah satu shifat al-Afal, kebalikan dari sifat tersebut tidak mustahil bagi-Nya, seperti sifat al-Muhyi sekaligus kebalikannya al-Mumit (Maha Mematikan), dan sifat al-Dharr (Maha Memberi Bahaya) dan kebalikannya an-Nafi (Maha Memberi Manfaat). Di samping itu para ulama juga mengatakan bahwa shifat al-Afal itu baqa (tidak berakhiran) bagi Allah, tapi tidak azal (ada permulaan).
Dari sekian banyak shifat adz-Dzat yang ada, sifat 20 dianggap cukup dalam mengantarkan seorang pada keyakinan bahwa Allah memiliki segala sifat kesempurnaan dan Maha Suci dari segala sifat kekurangan. Di samping substansi sebagian besar shifat adz-Dzat yang ada sudah ter-cover ke dalam 20 sifat tersebut yang ditetapkan berdasarkan dalil al-Quran, sunnah dan dalil aqli.
Di samping itu, sifat dua puluh tersebut dianggap cukup dalam membentengi akidah seseorang dari pemahaman yang keliru tentang Allah. Sebagaimana dimaklumi, aliran-aliran yang menyimpang dari faham Ahlussunnah wal Jamaah, seperti Mutazilah dan Musyabbihah justru menyifati Allah dengan sifat-sifat makhluk yang dapat menodai ke-Mahasempurnaan dan ke-Mahasucian Allah. Tentu, dengan memahami sifat wajib 20 tersebut, iman seseorang dapat terbentengi dari keyakinan-keyakinan yang keliru tentang Allah yang dibangun oleh kelompok-kelompok di luar Ahlussunnah wal Jamaah. Semoga bermanfaat.

0 comments:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan cerdas. Admin tidak bertanggung jawab atas komentar yang melanggar undang-undang, terlebih bersifat sara dan pornografi.