Wednesday, January 3, 2018

Cara Mencari Hadis dan Sanad Lengkap

0 comments
Dalam penelitian hadis, fokus utamanya ada pada kelengkapan sanad dan teks atau tema hadis. Hal yang menjadi problem adalah ketika ada teks hadis yang tidak dilengkapi penyebutan sanad dan siapa perawinya. Dalam beberapa karya ilmu keislaman, baik tema fikih, tauhid atau tasawuf, memiliki problem seperti ini saat penulisan hadis sebagai dalil sandaran. Dalam kitab-kitab tersebut, sering kita ditemukan penyebutan hadis tidak dilengkapi sanad dan rawi, atau bahkan tidak menyebut hadisnya, hanya menyampaikan madlul yang kemudian disampaikan bahwa hal itu berdasarkan hadis Nabi. Hal ini bisa mungkin karena dalam penulisan karya, hadis belum terkodifikasi dengan baik, dan penulisnya sudah ada sebelum kelahiran para perawi hadis, sebagaimana dijelaskan pada kajian pemdahuluan, atau karena hadis bukan bahasan utama dari yang ditulis melainkan madlul hadis, sementara hadis dijadikan landasan berpikir. Setidaknya, kalau diteliti akan kita temukan beberapa jenis penulisan hadis oleh para ulama dengan beberapa model. Jika diklasifikasi kasus, terdapat lima jenis. 1. Hadis ditulis lengkap dengan menyebut rawi dan shahabat sebagai sumber isnad. Berikut yang biasa ditulis: وَرَوَى أَبُو دَاوُد وَغَيْرُهُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: { إذَا تَوَضَّأْتُمْ فَابْدَءُوا بِمَيَامِنِكُمْ } فَإِنْ قَدَّمَ الْيُسْرَى كُرِهَ نَصَّ عَلَيْهِ فِي الْأُمِّ 2. Hadis ditulis lengkap berikut perawinya dengan presentasi madlul, tanpa menyebut Sahabat sebagai penerima hadis dari Nabi. Sebagaimana dalam kitab fikih ditemukan redaksi seperti ini: )وَيَجِبُ الِاسْتِنْجَاءُ) إزَالَةً لِلنَّجَاسَةِ (بِمَاءٍ) عَلَى الْأَصْلِ (أَوْ حَجَرٍ) لِأَنَّ الشَّارِعَ جَوَّزَ الِاسْتِنْجَاءَ بِهِ حَيْثُ فَعَلَهُ كَمَا رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَأَمَرَ بِفِعْلِهِ بِقَوْلِهِ فِيمَا رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: {وَلْيَسْتَنْجِ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ} الْمُوَافِقُ لَهُ مَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَغَيْرُهُ مِنْ {نَهْيِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الِاسْتِنْجَاءِ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ { 3. Hadis tidak ditulis, tapi menyebut Sahabat berikut mukharrij-nya setelah menjelaskan hukum atau madlul. Hal seperti ini biasa dilakukan oleh penulis fikih, sebagaimana redaksi berikut: الثانية إذا كانت النجاسة ذائبة كأثر البول والدم والخمر وغيرها استحب غسلها ثلاث مرات والواجب مرة واحدة ودليلهما ما ذكره المصنف وعن أحمد ابن حنبل رواية انه يجب غسل النجاسة كلها سبع مرات كالكلب ودليلنا حديث ابن عمرو هو صريح في المرة واطلاق الاحاديث الصحيحة المشهورة كحديث غسل دم الحيض (وصبوا عليه ذنوبا من ماء) وغير ذلك 4. Hadis ditulis lengkap dengan menyandarkan langsung pada Shahabat penerima hadis dari Nabi, tapi tidak menyebut rawi. Contoh penulisan seperti ini sebagai berikut: وإذا ولغ الكلب في اناء أو ادخل عضوا منه فيه وهو رطب لم يطهر الاناء حتى يغسل سبع مرات احداهن بالتراب لما روى عن أبي هريرة أن النبي صلي الله عليه وسلم قال ]طهور اناء أحدكم إذا ولغ فيه الكلب ان يغسل سبعا احداهن بالتراب) فعلق طهارته بسبع مرات فدل أنه لا يحصل بما دونه [ 5. Hadis ditulis sepotong, tanpa menyebut Sahabat dan muhaddis sebagai perawi. Contoh dari penulisan seperti ini adalah; فكل ذلك يوجب الغسل عندنا: وقال أبو حنيفة ومالك واحمد لا يجب الا إذا خرج بشهوة ودفق كما لا يجب بالمذى لعدم الدفق: دليلنا الاحاديث الصحيحة المطلقة كحديث (الماء من الماء( قال اصحابنا فان لم يزل عين الدم أو طعمه أو طعم سائر النجاسات الا بغسلات كفاه زوال العين ويستحب بعد ذلك غسلة ثانية وثالثة لحديث (إذا استيقظ أحدكم) Dengan ragam penulisan seperti ini, langkah untuk mengetahui sanad hadis yang kemudian dijadikan penelitian cukup terhambat. Untuk itu, diperlukan cara untuk melacak dan menelusuri hadis; terdapat di mana hadis itu dan siapa rawi sekaligus rentetan perawi dalam isnad? Sebab, untuk mengetahui hadis yang dilengkapi sanad tentu harus merujuk kutub al-mutun yang dirangkum oleh para muhaddis, semacam kitab al-Jami’ li al-Bukhari yang ditulis oleh Imam Bukhari atau yang dikenal Shahih al-Bukhari dan kitab matan lainnya, baik yang berkelas Jami’, Musnad atau Sunan. Dalam kajian hadis, dikenal dengan sebutan kutub sittah, tis’ah dan sunan. Setidaknya, ada lima kata kunci yang harus dicatat dalam menelusuri hadis (1) Perawi. (2) Awal kalimat pada hadis. (3) Kata kunci pada tema hadis. (4) Sahabat penerima hadis. (5) Takhrij ulama, jika ada. Pada contoh pertama, misalnya, ada tiga kata kunci untuk ditelusuri, Mukharrij (Abu Daud), Sahabat (Abi Hurairah) dan teks hadis. Ketiganya adalah kata kunci dalam tahap penelusuran untuk menemukan hadis secara lengkap dengan sanadnya. Pada contoh kedua, juga kita temukan hadis yang menyebut Imam Bukhari, Imam Syafi’i dan Imam Muslim sebagai perawi. Akan tetapi, dalam penulisannya tidak menyebut sahabat yang meriwayatkan dari Nabi, berikut sanad hadis, bahkan hadis Imam Bukhari juga tidak disebutnya. Setelah lima kata kunci di atas diketahui, setidaknya, ada lima langkah dalam melakukan pelacakan hadis: (1) potongan awal hadis, (2) potongan kata atau tema hadis, (3) sahabat penerima hadis dari Nabi langsung, (4) kitab takhrij, (5) media elektronik. Dari lima langkah ini tidak harus semuanya dicari. Jika satu langkah sudah berhasil ditemukan, pencarian bisa dinilai cukup. 1. Awal Hadis Hal ini dilakukan ketika hadis diketahui lengkap dari awal, baik berupa Qauliy (kutipan sabda Nabi), atau Fi’liy (deskripsi pekerjaan Nabi). Termasuk juga hadis yang didengar dari para masyayikh yang menyebutkan hadis tanpa diketahui siapa mukharrij atau perawi dan sahabat yang menerima dari Nabi. Untuk langkah penelitian, tentu sulit dilakukan sebelum mengetahui lebih lengkap siapa perawi dan isnad pada hadis tersebut. Perlu ditelusuri di mana hadis itu termuat dalam kutub al-mutun. Untuk menelusuri hadis yang diketahui potongan kata pada awal hadis, dapat memanfaatkan beberapa jenis kitab athraf. Adapun kitab populer di bidang ini adalah Mausu’ah Athraf al-Hadis yang ditulis oleh Abu Hajar Muhammad as-Sa’id bin Basyuni Zaghlul. Kitab berjenis indeks ini menginformasikan hadis yang tercantum pada beberapa kitab yang memuat hadis. Hanya yang perlu diketahui pada kitab ini adalah; 1) daftar kitab yang dijadikan rujukan tidak semuanya berjenis matan. Ada beberapa kitab yang justru akan menambah rumit karena di kitab yang ditunjukkan tidak mencantumkan mukharrij atau perawi di mana hadis itu diriwayatkan, seperti kitab Ittihafu Sadah al-Muttaqin yang merupakan syarh dari Ihya’ Ulum ad-Din. 2) daftar kitab yang dijadikan rujukan penerbitnya berbeda, sehingga menyulitkan untuk melacak karena jilid atau juz dan nomor yang ditunjukkan berbeda dengan terbitan yang beredar. Akan tetapi, ketika dipahami hadis itu termasuk dalam bab apa, bisa ditelusuri dari tema yang menjadi bahasan, karena rata-rata kitab berjenis matan sudah terklasifikasi dalam bab atau fashl. Paling tidak, dengan petunjuk pada kitab Athraf, sudah membuka peluang untuk mengetahui di mana hadis itu berada, meski pada halaman yang berbeda dengan yang ditunjukkan. 3) sebelum mengoperasikan kitab athraf, peneliti harus memahami cara pengoperasiannya. Sejenis kitab indeks hadis, pasti dipenuhi dengan kode-kode yang harus dipahami terlebih dahulu sebelum melakukan penelusuran. Semisal dalam kitab Mausu’ah Athraf al-Hadis dipenuhi dengan kode-kode yang harus dipahami terlebih dahulu. Untuk meretas kode-kode tersebut, pada jilid I halaman 16 sampai 21 diurai pada terbitan ‘Âlam at-Turats (Berut: 1410/1989). 4) penyusunan kitab berjenis athraf mengikuti urutan huruf Hijaiyah. Hal ini cukup memudahkan peneliti untuk melakukan searching. Dengan demikian, huruf pertama pada kata awal hadis menjadi kata kunci utama untuk ditelusuri. Ambil contoh pada hadis yang diawali oleh huruf Hamzah berikut: إذا استهل المولود ورث Ketika ditelusuri, ditemukan kode-kode berikut: د 2920— هق 2: 277 – هــ 1508 Melihat kode yang ditunjukkan, berarti hadis ini tercantum di Sunan Abu Daud (د) dengan nomor hadis 2920, Sunan Kubra lil Baihaqi (هق) jilid 2 halaman 277, dan Sunan Ibn Majah (هـ) dengan nomor hadis 1508. Tinggal merujuk pada halaman dan nomor hadis yang ditunjukkan. Jika tidak ditemukan pada halaman yang yang ditunjukkan, berarti cetakan yang dijadikan rujukan berbeda dengan yang dipegang. Untuk hal ini, bisa melihat pada konten hadis, sebab dalam kitab-kitab mutun sudah terklasifikasi pada satu bab tertentu. Jika konten hadis membahas tentang iman, misalnya, maka tinggal dilihat pada bab yang memuat sekumpulan hadis berkaitan dengan iman. Termasuk juga dari sekian kitab indeks hadis, kasus kedua lebih dikeluhkan daripada kasus pertama. Hanya saja, bisa tertangani dengan melihat tema pada hadis yang akan dilacak sumbernya. Untuk yang ketiga, termasuk hal paling memudahkan karena memang dibuat untuk panduan dalam pengoperasian kitab tersebut. Termasuk juga yang keempat, karena memang dibuat untuk menyingkat tulisan agar lebih simple. Kitab lainnya adalah Jami’ al-Ahadits yang ditulis oleh as-Suyuthi. Karena ditulis belakangan, kitab jami’ as-Suyuthi ini dinilai cukup lengkap dengan penyebutan mukharrij dan bahkan kualitas hadis secara hukum. Untuk mengoperasikannya cukup mudah, yakni dengan melihat kalimat awal hadis yang dicari terutama pada huruf awal dan kedua. Kode-kode juga muncul pada kitab ini dan sudah ada di muqaddimah-nya. Akan tetapi, secara umum ada kemiripan dengan kode-kode yang lain. Berikut contoh pada karya as-Suyuthi ini: قال النبي: أتانى جبريل فأمرنى أن آمر أصحابى ومن معى أن يرفعوا أصواتهَم بالتلبية (ح 4 حب ك هـ) عن السائب بن خلاد رضي الله عنه. Kode yang digunakan ini menunjukkan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh banyak mukharrij. Di antaranya, Imam Ahmad bin Hanbal, oleh al-Arba’ah, Ibn Majah, ibn Majah dan Imam Hakim dalam kitab Mustadrak-nya. Untuk menggali informasi lebih jauh, tinggal melihat kitab-kitab yang ditunjukkan. Kitab lainnya adalah Tuhfah al-Asyraf bi Ma’rifah al-Athraf yang ditulis oleh al-Hafidz al-Mizzi (w. 742). Kitab ini memuat hadis-hadis dari Shahihain dan beberapa kitab Sunan. Dalam kitab ini, potongan pertama hadis tetap menjadi objek yang harus dituju. Kelebihannya, selain disebutkan beberapa rawi pada suatu hadis juga bab dalam kitab yang disebutnya. Kode-kode juga muncul di kitab ini. Hanya masalahnya, sistem penulisannya tidak tidak sistem Mu’jam sehingga sedikit menyulitkan. 2. Potongan Kata/Tema Ketika kita hanya menemukan potongan hadis, tidak dari awal, melainkan kontennya saja, atau hanya satu kata (kalimah) yang menjadi inti pembahasan. Untuk hal ini, sebenarnya bisa mencari langsung di kitab-kitab mutun yang telah mengelompokkan hadis dalam babnya. Akan tetapi, langkah ini membutuhkan waktu yang cukup lama, terlebih konten hadis belum dipahami dengan baik; hadis yang dicari masuk dalam bab apa? Hal yang dapat membantu kesulitan adalah dengan memanfaatkan buku atau kitab indeks hadis. Buku Concordance et Indces De La Tradition Musulmane atau juga dikenal dengan Mut’jam al-Mufahras li Alfadz al-Hadis salah satu kitab indeks hadis yang bisa digunakan untuk membantu dalam penelusuran Hadis. Buku yang ditulis oleh A. J. Wensinck ini memuat indeks hadis-hadis yang termuat dalam kutub as-Sittah, ditambah Muwaththa’ Imam Malik, Musnad Imam Ahmad bin Hambal dan Sunan ad-Darimi. Perbedaan penerbit yang dijadikan daftar rujukan oleh Mu’jam al-Mufahras dan kitab yang beredar tetap menjadi kendala utama. Hanya kemudian, pada masing-masing hadis yang dijadikan rujukan dicantumkan babnya, sehingga memudahkan peneliti untuk melacak hadis, meski cetakan dari kitab yang dijadikan daftar rujuan berbeda penerbit. Kendala lain pada buku ini adalah terbatasnya sumber pada sembilan kitab di atas, sementara hadis-hadis Nabi tersebar dalam ratusan kitab. Akan tetapi, muatan pada sembilan kitab rujukan sudah mewakili sebagian besar hadis-hadis yang tersebar di masyarakat dan kitab-kitab karya ulama terdahulu. Paling tidak, ada konten yang sama pada hadis yang diteliti dengan hadis pada sepuluh kitab di atas. Namun demikian, secara keseluruhan buku ini sangat membantu peneliti hadis, baik dalam kajian takhrij al-hadis (otentikasi hadis), i’tibar (perbandingan sanad), atau bahkan maudhu’ al-hadis (tematis). Untuk mengoperasikan buku ini, perlu memahami kode-kode yang menjadi petunjuk di mana hadis yang ditelusuru termuat. Kode-kode pada buku ini, memiliki kesamaan dengan kode yang dirumuskan oleh Ibn Hajar dalam kitab Tahdzib at-Tahdzib-nya. Kode-kode pada kitab hadis akan disajikan pada bab IV, Insya-Allah. Cara lain yang harus diperhatikan adalah kata kunci yang digunakan merujuk pada masdar tsulatsi. Mirip cara pengoperasian kamus Arab-Indonesia, semacam al-Munawwir. Meski juga, kata kunci kalimat asal juga bisa dilacak secara langsung. Ambil contoh, kita akan mencari tema tentang Tsaubun, di mana saja hadis yang membicarakan hal ini? Di dalam Mu’jam al-Mufahras akan ditunjukkan hadis-hadis berkaitan dengan kata Tsaub dengan ragam kata turunannya, baik bermakna pahala atau baju, tentu juga mukharrij yang mengoleksi hadis tersebut di kitab mereka. Terkait dengan kata Tsaub, misalnya, bisa dibuka pada jilid I halaman 307 s.d. 313. Contohnya pada hlm 312 berkaitan dengan kafan Nabi: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كفن في ثلاثة أثواب خ جنائز 18، 23، 94،24" م جنائز 0045، 46، 47، د جنائز 30، ت جنائز 20، ن جنائز 0039" جه جنائز 0011" ط جنائز 5—7" حم 6، 40، 93، 117، 132، 165، 204، 214، 221. Kata Atswab adalah kata turunan berupa jama’ dari Tsaub. Melihat kode yang ditunjukkan, hadis ini berarti diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam at-Tirmidzi, Imam Nasa’i, Imam Ibn Majah, Imam ath-Thabrani dan Imam Ahmad bin Hanbal. Tinggal merujuk kitab-kitab yang ditunjukkan melalui bab dan halaman. Termasuk juga pada kata Tsawab yang masuk pada formasi hadis yang berkaitan dengan pahala haji: وليس للحجة المبرورة ثواب إلا الجنة ت حج 2" ن حج 3، 5" د مناسك 7" حم 1، 287 Dengan demikian, hadis ini dapat dilacak di kitab Sunan at-Tirmidzi bab Haji, Sunan an-Nasai bab Haji, Sunan Abi Daud Bab Manasik dan Musnad Imam Ahmad. Di empat kitab inilah kita akan mengetahui sanad hadis yang lengkap. Tinggal kita mencatat hadis dan seluruh nama rawi dalam rangkaian isnad. 3. Shahabat Penerima Hadis Dalam kitab kuning, penyebutan hadis kadang langsung menyandarkan pada seorang Sahabat Nabi yang menerima langsung dari Rasulullah. Ketika demikian, langkah penelusurannya adalah dengan memanfaatkan kitab-kitab munad atau Mu’jam, seperti kitab Jami’ al-Masanid wa as-Sunan yang ditulis oleh al-Hafidz al-Muhaddits al-Muarrikh Ibn Katsir. Kitab dengan 37 jilid ini merangkum hadis-hadis dalam kitab Musnad dan Sunan yang diklasifikan dalam nama Shahabat sebagai perawi hadis dari Rasulullah. Kitab lainnya yang bisa dimanfaatkan adalah: 1. Kitab Mu’jam yang ditulis oleh Imam Thabrani (w. 360), mulai Mu’jam ash-Shaghir, al-Awsath hingga al-Kabir. Dalam Mu’jam al-Kabir-nya, Imam Thabrani merangkaum sekitar enam ribu hadis yang dirunut dengan sitem kamus sesuai huruf Hijaiyah. Hanya saja, untuk hadis melalui Abu Hurairah, disendirikan dalam karya tersendiri. Sementara dalam Mu’jam al-Awsath dan ash-Shaghir dirunut sesuai urutan guru-guru Imam Thabrani. 2. Kitab al-Musnad al-Jami’ yang di-tahqiq dan disusun oleh lima orang; Dr. Basysyar ‘Awwad Ma’ruf, Sayyid Abu al-Ma’athi Muhammad an-Nuri, Ahmad ‘Abdirrazzaq ‘Id, Ayman Ibrahim az-Zamili, dan Mahmud Muhammad Khalil. Kitab ini cukup mudah karena sudah tidak menggunakan kode-kode dalam penulisan, tapi langsung menyebut kitab dan rawinya. Langkah pengoperasian kitab jenis ini adalah dengan memahami kata kunci pada nama Sahabat yang menerima langsung dari Nabi. Pada masing-masing hadis akan diberi kode, oleh siapa saja hadis tersebut diriwayatkan dan dikeluarkan oleh mukharrij dalam kitab mereka. Akan tetapi, pada kitab al-Musnad al-Jami’ tidak menggunakan kode lagi dan penyusunannya mengikuti sistem Mu’jam. Tinggal kita cari huruf awal pada nama Shahabat yang kita cari. Semisal kita akan melacak hadis Khalid bin Walid yang kebingungan saat kehilangan kopiahnya di peperangan. Ternyata di dalamnya terdapat rambut Nabi, dan menyebutkan hadis bahwa sahabat berebutan rambut Nabi saat tahallul dalam pelaksanaan umrah. Ketika akan melacaknya di Mu’jam al-Kabir oleh Imam Thabrani, disebutkan “Bab man ismuhu Khalid.” Dari rentetan hadis yang disebutkan ditemukan demikian: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بن عَبْدِ الْعَزِيزِ ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بن مَنْصُورٍ ، حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بن جَعْفَرٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، أَنَّ خَالِدَ بن الْوَلِيدِ فَقَدَ قَلَنْسُوَةً لَهُ يَوْمَ الْيَرْمُوكِ ، فَقَالَ : اطْلُبُوهَا فَلَمْ يَجِدُوها ، فَقَالَ : اطْلُبُوهَا ، فَوَجَدُوهَا فَإِذَا هِي قَلَنْسُوَةٌ خَلَقَةٌ ، فَقَالَ خَالِدٌ : اعْتَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَلَقَ رَأْسَهُ ، فَابْتَدَرَ النَّاسُ جَوَانِبَ شَعْرِهِ ، فَسَبَقْتُهُمْ إِلَى نَاصِيَتِهِ فَجَعَلْتُهَا فِي هَذِهِ الْقَلَنْسُوَةِ ، فَلَمْ أَشْهَدْ قِتَالا وَهِيَ مَعِي إِلا رُزِقْتُ النَّصْرَ. Selain itu, bisa pula dengan menggunakan kitab yang secara khusus ditulis melalui pengelompokan riwayat sahabat dalam satu musnad terntentu, seperti musnad yang sampai pada Abu Bakar atau khalifah lainnya. Dengan model ini, berarti kita akan melacak hadis-hadis yang diriwayatkan oleh sahabat tertentu dan itu sudah terkumpul dalam satu kitab. 4. Kutub al-Mutun Hal yang paling mudah dilakukan penelusuran adalah ketika dalam hadis yang akan kita telusuri sudah menyebut mukharrij-nya. Kata rawahu Abu Daud, misalnya, hanya cukup dengan merujuk pada kitab Sunan Abu Daud. Hanya masalahnya, cukup rumit karena kitab mukharrij rata-rata lebih dari satu jilid. Hal yang mungkin kita bisa lakukan adalah dengan memahami konteks persoalan. Dari konten yang disajikan hadis yang dicari, kita dapat melihat dari kumpulan hadis yang telah terklasifikasi dalam bab-bab tertentu. Ada pula, kitab mutun dilengkapi dengan indeks pencarian. Indeks bisa dari awal hadis atau dari unsur sahabat. Jika kita temukan cetakan model demikian, akan memudahkan bagi kita untuk melacak hadis tersebut, tapi sayangnya tidak semua penerbit melampirkan indeks hadis pada pendahuluannya. Mudahnya lagi, dalam Kutub at-Mutun sudah terklasifikasi pada hukum hadis, seperti kitab ash-Shahihat, adh-Dha’ifat atau al-Maudhu’at. Jika ingin mengetahui hadis yang berkualitas shahih atau bahkan maudhu’ tinggal merujuk pada kitab ini. Adapun kitab jenis ini, seperti Shahih al-Bukhari, al-Maudhu’at oleh al-Jauzi. 5. Media Elektronik Bisa pula, penelusuran hadis dilakukan dengan menggunakan pertolongan program digital komputer, semisal Maktabah Syamilah atau Jami’ al-Akbar. Akan tetapi, bagi pemula penggunaan kitab digital tidak dianjurkan, terkecuali sebagai pembantu dalam kajian I’tibar. Dalam kajian I’tibar atau komparasi isnad, memang dibutuhkan informasi sebanyak mungkin terkait hadis yang menjadi objek penelitian, baik yang disampaikan secara qauliy atau maknan. Media penelusuran di atas adalah bagian dari upaya melacak hadis dari sumber asli yang ditulis oleh para rawi. Setidaknya, dalam satu hadis akan memuat materi hadis (matan) dan isnad sebagai jalur periwayatan dari seorang rawi berstatus mukharrij dari rawi di atasnya, sampai sumber hadis (man udhifa ilaih). Materi hadis, tergantung dari perekaman shahabat, baik berupa kutipan sabda Nabi (qauli), tindak langkah (fi’li) atau penetapan apa yang dilakukan sahabat (taqriri). Pada isnad akan ditemukan sejumlah rawi hadis yang disebutkan oleh perawi yang merangkum hadis tersebut dalam kitabnya (mukharrij) beserta kode periwayatan (shighat ada’ wa at-tahammul). Jika kemudian dalam isnad terdapat kode Ha’ (ح), terambil dari kata tahwil berarti perawi memiliki dua jalur isnad yang bertemu di satu rawi yang diberi kode Ha’. Ada pula yang diberi kode Za’ (ز) yang berarti hadis tersebut merupakan zaidah atau tambahan dari karya sebelumnya.

0 comments:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan cerdas. Admin tidak bertanggung jawab atas komentar yang melanggar undang-undang, terlebih bersifat sara dan pornografi.