Suatu ketika Ibrahim bin Adham (salah seorang wali Allah, w. 161 H) sedang melakukan perjalanan menuju tanah suci dengan berjalan kaki. Di tengah jalan, seorang pengendara unta yang kebetulan mengenalnya, menegurnya.
"Hendak pergi kemana engkau, Ibrahim ?," kata pengendara unta.
"Aku ingin berhaji ke tanah suci," jawab Ibrahim.
"Tapi tanah suci sangat jauh. Di mana kendaraanmu?."
"Aku memiliki banyak kendaraan, tapi engkau tidak melihatnya."
"Di mana kendaraan-kendaraan itu ?."
"Aku ingin berhaji ke tanah suci," jawab Ibrahim.
"Tapi tanah suci sangat jauh. Di mana kendaraanmu?."
"Aku memiliki banyak kendaraan, tapi engkau tidak melihatnya."
"Di mana kendaraan-kendaraan itu ?."
Ibrahim menjawab :
"Apabila aku ditimpa musibah, aku menaiki kendaraan sabar. Apabila aku memperoleh ni'mat, aku menaiki kendaraan syukur. Apabila datang ketentuan Allah, aku menaiki kendaraan ridla. Dan jika nafsuku mengajakku berbuat buruk, aku sadar bahwa tidak tersisa dari ajalku kecuali hanya sedikit."
"Apabila aku ditimpa musibah, aku menaiki kendaraan sabar. Apabila aku memperoleh ni'mat, aku menaiki kendaraan syukur. Apabila datang ketentuan Allah, aku menaiki kendaraan ridla. Dan jika nafsuku mengajakku berbuat buruk, aku sadar bahwa tidak tersisa dari ajalku kecuali hanya sedikit."
Laki-laki pengendara unta itu lalu mengakhiri pembicaraan :
"Lanjutkan jalan kakimu dengan izin Allah. Demi Allah, engkaulah sejatinya yang berkendara, sedangkan aku pejalan kaki."
"Lanjutkan jalan kakimu dengan izin Allah. Demi Allah, engkaulah sejatinya yang berkendara, sedangkan aku pejalan kaki."

0 comments:
Post a Comment
Berkomentarlah dengan cerdas. Admin tidak bertanggung jawab atas komentar yang melanggar undang-undang, terlebih bersifat sara dan pornografi.