Surga dan Neraka Kekal?
Hal yang menjadi tolok ukur dalam keimanan seseorang adalah mempercayai hal-hal ghaib yang diberitakan oleh Rasulullah melalui wahyu, termasuk keberadaan surga dan neraka. Keduanya, diberitakan sebagai titik tolak dari semua perbuatan manusia dan bangsa jin semasa hidup di dunia, baik yang bersifat pahala maupun dosa. Akan tetapi, mengenai keduanya tetap menjadi misteri, khususnya apakah nantinya keduanya juga rusak ketika kiamat?
Pertanyaan ini sering menggelinding di beberapa forum, khususnya di pengajian IASS (Ikatan Alumni Santri Sidogiri). Hal ini seiring dengan adanya ayat pada surah al-Qashshash ayat 88, yang menyebutkan bahwa semuanya akan rusak kecuali dzat Allah. Arti dalam ayat tersebut demikian: ”Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” Juga pada surah ar-Rahman ayat 26-27 yang artinya: “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”
Surga dan neraka merupakan tempat balasan bagi bangsa jin dan manusia. Sampai saat ini, keberadaan keduanya tetap dilingkupi misteri. Apakah di luar alam dunia ini, atau masih dalam lingkungan dunia saat ini, tetapi dalam dimensi yang berbeda? Wallahu alam. Yang jelas, keduanya harus diyakini keberadaannya, dan semua agama meyakini keduanya.
Apakah keduanya akan rusak pula, sesuai dengan informasi pada kedua ayat di atas? Dalam pandangan Ahlussunnah keduanya kekal, seiring kekalnya ruh manusia dan jin. Lantas bagaimana untuk menjelaskan kekanya surga dan neraka?
Hal yang bisa dijelaskan pertama adalah bahwa Allah memiliki kekuasaan penuh atas segala ciptaannya, termasuk keduanya. Di sisi lain Allah juga memiliki sifat jaiz yang dapat melalukan dan meninggalkan segala hal yang mungkin terjadi (Filu mimkinin aw tarkuhu). Sementara kekekalan surga dan neraka adalah yang mungkin terjadi, dan itu memang sesuai yang dikendaki oleh Allah. Hal ini jika dikorelasikan dengan beberapa ayat yang menginformasikan bahwa penduduk surga dan neraka akan kekal (khalidin). Beberapa ayat dimaksud di antaranya adalah:
Surah Ali Imran ayat 15, 136, dan 198.
أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ
“Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Ali Imran [3]: 136).
Penjelasan kedua, semua ayat yang menjelaskan bahwa semua mkhluk akan rusak kecuali dzat Allah tidak bersifat mutlak. Artinya, ada beberapa makhluk yang memang dikekalkan oleh Allah. Dalam hal ini, beberapa mufassir menjelaskan bahwa ada delapan makhluk yang dikecualikan dari ayat dia atas. Sebagaimana dikutip oleh ash-Shawi, As-Suyuthi menyebut kedelapan makhluk tersebut dalam bentuk nazham. Semuanya adalah: al-Arsy, al-Kursiy, an-Nâr, al-Jannah, al-Ajab, al-Arwah, al-Lawh al-Mahfudz, dan al-Qalam.
Penjelasan ketiga, surga dan neraka merupakan balasan dari Allah di akhirat, terutama bagi mereka yang beriman. Sebab, balasan di dunia tidak sepadan dengan apa yang dilakukan di dunia. Sebagaimana disebutkan Ibn Athaillah as-Sakandari dalam al-Hikamnya, Allah menciptakan alam akhirat sebagai balasan bagi hamba-hambanya yang beriman karena alam dunia tidak cukup untuk membalas keagungan amal mereka di alam yang tidak kekal (la baqaa laha).
Dalam Syarh al-Hikam disebutkan, setidaknya ada dua alasan mengenainya. Pertama, alam dunia yang juga mengandung nikmat tidak cukup untuk diberikan kepada orang-orang yang beriman karena kenikmatan dunia bersifat sementara. Allah ingin memberikan mereka lebih dari itu semua dengan kenikmatan yang berlipat-lipat dari kenikmatan di alam dunia.
Kedua, alam dunia tidak besifat kekal tidak pantas untuk dijadikan imbalan bagi orang yang memiliki derajat tinggi, seperti orang-orang yang beriman. Sebab, semua yang akan sirna, meskipun lama tidak akan serasa nikmat dibanding dengan kekekalan itu sendiri.
Tentunya, hukum sebaliknya terjadi bagi orang-orang kafir, yakni tidak beriman. Siksa berupa kekafirannya di dunia tidak cukup sebagai balasan. Kekekalan di neraka adalah hal yang paling pantas diterima atas keingkaran untuk beriman.
Dengan demikian, ada titik kesimpulan bahwa surga dan neraka akan kekal. Akan tetapi, kekekalan keduanya, berikut yang lain berbeda dengan kekalnya Allah. Jika Allah memang kekal secara dzatiyah dan itu bersifat wajib dan tidak akan mungkin terjadi kerusakan, sedangkan kekekalan keduanya dilingkupi oleh kehendak Allah, dan bersifat jaiz. Allah sengaja mengekalkan keduanya untuk tujuan memberikan balasan bagi hamba yang beriman dan kufur, di samping tujuan pasti yang hanya diketahui oleh Allah.
Karena sengaja dikekalkan, dan itu bersifat mungkin terjadi (jaiz), maka bisa mungkin pula Allah menghendaki rusak keduanya, seperti makhluk lainnya. Sebab, itu juga sesuai ketentuan bahwa Allah memiliki hak prioritas untuk melakukan hal itu, sesuai dengan sifat jaiz yang dimiliki-Nya. Hanya saja, hal demikian, informasinya tidak sebanding, atau jika tidak kita katakan tidak ada, dengan ayat-ayat yang menjelaskan keduanya memang sengaja dikekalkan, sebagaimana ruh manusia yang memang sengaja dikekalkan. Wallahu alam.
Friday, December 29, 2017
Surga Neraka Tidak Kekal?
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment
Berkomentarlah dengan cerdas. Admin tidak bertanggung jawab atas komentar yang melanggar undang-undang, terlebih bersifat sara dan pornografi.