وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzaariyaat [51]: 56).
Seorang teman alumni PPS di Besuki bertanya tentang ayat di atas. Menurutnya, kita yakin bahwa Allah tidak membutuhkan apa pun dari manusia, sedang ayat di atas menjelaskan bahwa Allah jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Ada kesan kontradiktif antara keyakinan dan dalil.
Pernyataan tersebut memang sering muncul, karena secara lahir ayat tersebut menyatakan demikian. Akan tetapi, bagaimana maksud ayat tersebut? Semoga saja, tulisan kecil ini dapat memberikan penjelasan yang cukup dengan tiga subjek kajian: konteks ayat, esensi penciptaan dan peribadatan, serta tujuan peribadatan jin dan manusia. Tentunya, ulasan berikut segelintir jawaban dari keluasan jawaban para ulama.
Jika kita melihat subjek dan konteks persoalan pada ayat tersebut kita akan mendapatkan informasi yang utuh. Sebelum ayat tersebut, Allah menginformasikan bahwa para rasul sebelum Nabi Muhammad diingkari oleh kaum mereka yang menyekutukan Allah. Selanjutnya, Allah memerintahkan Rasulullah untuk tetap memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Baru kemudian, Allah menjelaskan tugas (wazhifah) yang berupa ibadah yang karena tugas itu Allah mewujudkan jin dan manusia.
Artinya, pewujudan jin dan manusia sejatinya untuk menugaskan manusia untuk beribadah hanya kepada Allah. Dengan maksud lain, melalui ayat tersebut Allah memberitahukan jin dan manusia bahwa hikmah penciptaan mereka adalah agar melaksanakan ibadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Untuk itu, informasi pada ayat ini bukan berarti Allah membutuhkan peribadatan mereka, melainkan memberikan pelajaran kepada kedua makhluk ini atas kewajiban mereka setelah mereka diciptakan.
Selanjutnya, ketika ibadah ditetapkan menjadi tugas pokok jin dan manusia dalam menjalankan hidup, berarti keduanya akan bernilai tinggi di sisi Allah melalui perbaikan ibadahnya kepada Allah. Informasi pada ayat ini menegaskan bahwa hanya melalui kemurnian ibadah kepada-Nya, jin dan manusia memiliki kehormatan di sisi-Nya. Dengan demikian, peribadatan yang dilakukan jin dan manusia semata-mata bukan kebutuhan bagi Allah melainkan sebaliknya jin dan manusialah yang membutuhkan Allah.
Mengenai hal ini, Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Munir-nya memberi komentar bahwa melalui ayat ini sepertinya Allah menyatakan demikian, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya Aku perintahkan mereka untuk beribadah dan mereka menyembah Allah dengan tindakan, bukan karena aku butuh kepada mereka.”
Juga mengenai ayat ini, ar-Razi memberi beberapa catatan persoalan yang di antaranya menjadikan kata ibadah sebagai inti dari ayat tersebut. Menurut beliau, kata ibadah pada ayat ini berarti adalah mengagungkan pada perintah Allah dan merupakan bentuk kasihan Allah kepada makhluk-Nya. Artinya, jin dan menusia diperintahkan untuk beribadah, karena dengan perintah tersebut berarti Allah kasihan kepada jin dan manusia yang sangat butuh kepada Allah dengan memberi kesempatan kepada mereka untuk bermunajat dan berdekatan dengan-Nya.
Mengenai Lam talil (alasan) pada ayat di atas, menurut ar-Razi, tidak lah bersifat hakiki karena Allah tentunya tidak butuh kepada ibadah hambanya. Sebab, Lam talil tersebut tidak pas untuk dimaksudkan sebagai tujuan dari suatu hal, sebagaimana pada ayat li Daluk asy-Syam para surah al-Isra: 78 dan kata li Iddatihinna pada surah ath-Thalaq: 1. Pada kedua ayat ini, maksud Lam talil-nya adalah dalam arti kebersamaan (muqaranah), bukan li al-Ghardh (tujuan). Berarti, maksud dari ayat penciptaan tersebut, demikian kata ar-Razi dalam tafsirnya, adalah penciptaan jin dan manusia bersamaan dengan perintah untuk beribadah (Khalaqtuhum wa farradhtu alaihim al-ibadah).
Jika demikian, apa fungsi perintah ibadah bagi manusia? Pada beberapa ayat dijelaskan bahwa nikmat Allah yang ditabur ke dunia sulit terhitung. Pada kehidupan manusia, nikmat Allah demikian tidak terhingga, sehingga mewajibkan manusia untuk menyukurinya. Melalui ayat ini, sepertinya Allah memberi pelajaran kepada jin dan manusia tentang cara menyukuri nikmat yang telah Allah berikan, yaitu hanya dengan beribadah kepada-Nya.
Pengertian ini dapat dipahami dari ayat berikutnya yang menginformasikan bahwa Allah tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka (jin dan manusia) dan Allah tidak menghendaki supaya mereka memberi-Nya makan. Ayat selanjutnya menjelaskan demikian, “Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.”
Dengan demikian, ayat di atas merupakan upaya penyadaran terhadap jin dan manusia agar mengakui dan sadar atas status mereka sebagai hamba yang wajib taat (liyaqirru bi al-Ubudah). Layaknya sebagai hamba, segala perintah Allah harus mereka jalankan dan segala larangan-Nya harus mereka jauhi. Oleh karena itu, Allah tidak menyebut malaikat sebagai objek pada ayat ini, karena mereka tidak untuk imtitsal awamir Allah wa ijtinab an-nawahi.
Pada intinya, Allah tidak sama dengan makhluknya, dan sama sekali Allah tidak membutuhkan peribadatan mereka. Sebab, tanpa peribadatan mereka pun Allah tetap menjadi Tuhan. Oleh karena itu, untuk memahami ayat di atas diperlukan kehati-hatian untuk menjaga keimanan yang memang harus dipertahankan. Wallahualam.

0 comments:
Post a Comment
Berkomentarlah dengan cerdas. Admin tidak bertanggung jawab atas komentar yang melanggar undang-undang, terlebih bersifat sara dan pornografi.