Friday, December 29, 2017

Rahasia Ridha dan Murka Allah

0 comments

Rahasia Ridha dan Murka Allah
Dalam bahasa agama, ada dua hal yang menjadi titik tolak dari pekerjaan seorang hamba: pahala dan dosa. Keduanya merupakan sumber dari perintah dan larangan yang Allah yang juga menjadi sumber murka dan ridha dari-Nya. Hal yang jelas, pahala yang dapat melahirkan ridha dan dosa menarik murka. Hanya saja, keduanya cukup beragam, sehingga sulit diketahui pahala apa yang bisa melahirkan ridha dan dosa apa yang menarik murka Allah.
Menyangkut ridha dan murka Allah memang menjadi misteri yang tidak mungkin disingkap dan dipahami manusia, karena ia dilingkupi oleh hikmah yang memang hanya diketahui oleh Allah. Akan tetapi, ulama kemudian mencari sinyal-sinyal informasi apa saja yang memang dirahasiakan oleh Allah. Dzun Nun al-Mishri, misalnya, dalam satu halaqah ilmiahnya pernah menyatakan, ada tiga hal yang Allah sengaja samarkan. Ketiganya adalah berikut:
Pertama, ridha Allah dalam ketaatan. Ridha Allah tentunya menjadi dambaan setiap hamba-Nya, karena dengannya, manusia akan hidup bahagia dan mati dalam keadaan husnul khatimah yang berbuah surga. Dari itulah, taat yang dikerjakan oleh manusia mestinya hanya memiliki satu tujuan, yaitu ridha Allah, bukan pahala atau surga. Hanya masalahnya, ibadah seperti apa yang melahirkan ridha Allah?
Allah memang merahasiakan ridhanya di balik beragamnya ibadah. Banyaknya ibadah tidak menjamin akan mendapat ridha-Nya, justru terkadang pekerjaan yang terbilang remeh di hadapan manusia mendatangkan ridha-Nya. Dalam suatu hadits disebutkan seorang pelacur yang diampuni hanya karena memberi minum anjing yang kehausan.
أن امرأة بَغِيّا رَأَت كَلبا في يومٍ حارٍّ يُطيفُ بِبِئْرٍ ، قد أدْلَعَ لِسَانُهُ من العطَشِ ، فَنزَعَتْ لَهُ مُوقَهَا ، فَغُفِرَ لَهَا.
“Seorang pelacur perempuan melihat anjing pada hari yang panas dan berputar-putar di sumur. Anjing tersebut menjulurkan lidahnya karena kehausan, yang kemudian perempuan tersebut melepaskan …. untuk memberi minum anjing. Akhirnya, ia diampuni dosa-dosanya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Juga hadits yang mengisahkan seorang laki-laki yang melepaskan sepatu muzahnya untuk menimba air yang diminumkan ke anjing kehausan. Allah bersyukur padanya dan mengampuni dosa-dosanya. Sahabat yang mendengar kisah tersebut mengatakan, “Apakah bagi kita pada binatang terdapat pahala?” Rasulullah kemudian menyampaikan, pada setiap hati (kabid) yang basah terdapat pahala.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Untuk itu, kita tidak boleh menyepelekan amal baik, meskipun sepertinya bobot pahalanya ringan. Bisa mungkin, amal model demikianlah yang dapat menarik ridha Allah yang berbuah surga.
Kedua, murka Allah dalam kemaksiatan. Dalam hal ini, orang yang banyak mengerjakan kemaksiatan belum tentu mendapat murka Allah, dan juga sebaliknya yang karena melakukan kemaksiatan sepele malah mendapat murka Allah. Mendapat murka Allah tentu balasannya adalah neraka, naudzubillah min dzalik. Hal ini tercermin dari hadits yang menjelaskan seorang perempuan yang masuk neraka gara-gara mengekang kucing dan tidak memberinya makan hingga mati.
Ketiga, dari tiga hal yang dirahasiakan oleh Allah adalah kewalian pada hambanya. Wali berarti kekasih Allah yang memang dirahasiakan oleh-Nya. Bisa mungkin, orang yang terbilang rendah secara sosial maupun agama dengan aktivitas ibadah yang biasa-biasa menjadi kekasih Allah, dan bisa mungkin pula orang yang terlihat saleh justru dimurkai Allah.
Hikmah dari tiga hal di atas adalah sikap waspada terhadap dalam segala tindakan. Bisa mungkin, dengan rasa ikhlas perbuatan baik mendapat pahala besar, dan sebaliknya dengan menyepelekan perbuatan maksiat mendapat murka Allah. Demikian pula, kita tidak boleh meremehkan seseorang karena bisa mungkin dia adalah wali Allah. Dalam al-Quran surah al-Zalzalah disebutkan demikian:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ. وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ.
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al-Zalzalah [99]: 7-8).
Dalam keterangan lain, Allah memang banyak merahasiakan sesuatu yang tujuannya agar manusia terus mencari ridha Allah dalam segala tindakan baik dan berhati-hati dari murka Allah dalam segala tindakan maksiat. Misalnya, selain dari tiga hal di atas, Allah juga merahasiakan Lailah al-Qadar pada setiap malam Ramadhan, agar manusia setiap malam melakukan ibadah.
Pada sisi yang lain, Allah juga merahasiakan terkabulnya doa pada hari Jumat, agar terus berdoa pada hari itu, termasuk juga merahasiakan Asma al-Adzam-Nya agar manusia berdoa dengan semua Asma tersebut. Allah juga merahasiakan shalat al-Wustha agar manusia menjaga semua shalat yang telah diwajibkan.
Hal terpenting dari semua itu adalah kita sebagai hamba terus berusaha untuk mencari ridha Allah dalam setiap amal baik, walaupun itu terbilang kecil. Demikian pula bersikap mawas diri untuk selalu menghindari perbuatan dosa, walaupun ternilai remeh. Sebab, kita tidak pernah tahu, mana yang menarik ridha Allah dan mana yang mengundang murka Allah. Kita berharap semoga Allah senantiasa meridhai amal baik kita dan mengampuni dosa-dosa kita. Amin.

0 comments:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan cerdas. Admin tidak bertanggung jawab atas komentar yang melanggar undang-undang, terlebih bersifat sara dan pornografi.