Sunday, January 7, 2018

Kita Wajib Menutup Aib Orang Lain

0 comments

Suatu ketika, saat para sahabat Nabi kumpul di masjid setelah Maghrib, tercium bau tidak sedap menyeruak di tengah perkumpulan. Sahabat meyakini, bau tersebut berasal dari kentut salah satu  dari mereka. Banyak yang tidak tahan dengan bau kentut itu, hingga salah satu dari mereka berdiri dan berkata, “Barangsiapa yang kentut, silahkan bangun!” Akan tetapi, tak seorang pun berdiri dan suasana menjadi hening.
Saat masuk waktu shalat Isya, mereka berkata, “Yang wudhu setelah ini, itulah yang kentut.” Mereka terus mengamati siapa yang akan berwudhu. Akan tetapi, tak seorang pun beranjak dari tempat duduknya untuk berwudhu. Semakin menambah penasaran.
Setelah Bilal bin Rabah bangun untuk mengumandangkan adzan, Rasulullah bersabda, “Tunggu, saya belum batal. Saya hendak berwudhu lagi.” Semua sahabat akhirnya wudhu dan tidak diketahui siapa yang kentut waktu itu.
***
Malu ketika aib diri ketahui orang lain adalah karakter setiap manusia, dan setiap orang pasti memiliki aib pribadi yang jika dibongkar akan marah karena malu. Oleh karena itu, membuka aib orang lain merupakan larangan besar dalam Islam. Dalam riawayat Imam Muslim melalui Abu Hurairah Rasulullah bersabda:
كل المسلم على المسلم حرام : دمه وعرضه وماله
“Setiap mulim atas muslim lain haram darah, harga diri dan hartanya.” (H.R. Muslim).
Hadis ini memberikan gambaran bahwa Islam sangat menjaga hak privasi, kehormatan dan perasaan seseorang. Aib seseorang harus dijaga. Dari itu, sejenis ghibah atau menggunjing dengan tema membongkar aib seseorang adalah bagian dosa besar; “Memakan bangkai manusia,” begitu Rasulullah menggambarkan perilaku ghibah.
Apa yang dilakukan oleh Rasulullah dalam kisah hadis di atas adalah bagian dari contoh bagaimana seharusnya seseorang berusaha menyimpan rahasia aib orang lain. Kisah lain dengan kasus yang sama, terjadi pada saat Rasulullah menghadiri undangan salah satu sahabat untuk menikmati daging unta di masjid Quba. Salah satu dari sahabat ada yang buang angin dan tercium aroma tidak sedap. Hadirin semuanya penasaran.
Menjelang waktu Maghrib, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang makan daging unta, berwudhulah!” Mendengar perintah Nabi, semua sahabat berwudhu. Siapa yang buang angin? Menjadi sebuah teka-teki dan tidak ketahui. Namun yang jelas, aibnya tersimpan di antara rasa penasaran sahabat dan perpecahan hanya karena kentut teratasi.
Langkah Rasulullah tersebut adalah teladan; langkah bijak untuk menyimpan aib saudara. Langkah bijak ini sangat penting agar kerukunan dan kenyamanan bersahabat, bertetangga, dan bahkan berkeluarga terjaga dengan baik dan harmonis. Penting juga teladan dari Hatim al-Asham yang pura-pura tuli selama 15 tahun, semasa hidup seorang perempuan yang pernah kentut di hadapannya, hanya untuk menyimpan aib tetangganya tersebut.

Langkah bijak menyimpan aib saudara bisa terlahir dari dua hal penting: kepekaan hati atas perasaan orang sekitar dan perasaan sendiri jika itu terjadi pada diri sendiri. Orang yang tidak peka terhadap perasaan orang lain, biasanya tidak mau peduli apakah orang sakit hati atau tidak atas perbuatannya. Demikian pula, orang tidak peka terhadap perasaan sendiri jika itu terjadi pada dirinya juga menyebabkan semberono menyakiti orang lain.
Untuk kepekaan terhadap diri sendiri nampaknya memiliki keampuhan pesikologi yang kuat, dibanding memikirkan perasaan orang lain, karena sebersih apa pun orangnya pasti memiliki aib. Entah itu, kekurangan fisik, kelakuan buruk, atau dosa yang jika dibongkar akan merasa malu.
Dari itulah, sentuhan nasihat hadis-hadis Nabi terkait dengan aib saudara adalah dengan membongkar aibnya. Allah akan membongkar aib seseorang jika ia membongkar aib orang lain. Allah juga menjamin menutup aibnya, jika menutup aib orang lain.
Bisa mungkin kita berusaha menyimpan aib pribadi, tetapi Allah mengetahui segalanya yang bisa diungkap kapan saja. Akan tetapi, dengan berupaya menutupi aib orang lain, Allah menjamin menutup aibnya, baik di dunia atau di akhirat. Dalam hal ini, Rasulullah bersabda:
مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
“Orang yang  menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aib)nya di dunia dan akhirat.” (H.R. Ibn Majah).
Dalam potongan hadis riwayat Imam Muslim juga disebutkan demikian, bahkan Allah menyandingkan dengan jaminan pertolongan bagi orang yang suka menolong:

ومن ستر مسلما ستره الله في الدنيا والآخرة والله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه
“Orang yang  menutupi (aib) muslim, Allah menutupi (aib)nya di dunia dan akhirat. Allah juga menolong seorang hamba, selagi ia menolong saudaranya. (H.R. Muslim).
Ketika aib berupa dosa tertutupi, tentu akan menyelamatkan kita dari api neraka. Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah juga bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani dalam hadis berikut:
مَنْ سَتَرَ حُرْمَةَ مُؤْمِنٍ سَتَرَهُ اللَّهُ مِنَ النَّارِ
“Orang yang menutupi [hal merusak] kehormatan seorang mukmin, Allah akan menutupinya dari api neraka.” (H.R. Thabrani).
Terdapat serentetan riwayat berupa jaminan penutup aib saudara, sekaligus ancaman yang demikian besar; terbukanya aib sendiri ketika berani membongkar aib orang lain. Ini memberi pelajaran bahwa Islam sangat menjunjung tinggi harga diri seseorang, karena kadang kita dengan mudahnya membicarakan kejelekan orang lain, sehingga lupa kejelekan sendiri. Sebuah pepatah mengatakan: “Semut di seberang lautan nampak kelihatan, gajah di pelupuk mata tak kelihatan.”

0 comments:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan cerdas. Admin tidak bertanggung jawab atas komentar yang melanggar undang-undang, terlebih bersifat sara dan pornografi.