Sunday, January 7, 2018

Tawakkal Solusi Hidup Tenang

0 comments

Malik bin Dinar, seorang yang tenggelam dalam dunia sufistik, bercerita tentang kisah hidupnya yang mengesankan saat ia menjalankan ibadah haji melalui padang pasir.  Di tengah padang sahara itu, ia terkejut mendapati seekor gagak yang membawa roti di paruhnya. Ia berpikir, gagak tersebut pasti memiliki maksud tertentu atas perbuatannya. Akhirnya ia ikuti kemana gagak terbang, hingga masuk ke sebuah goa.
Di dalam goa, betapa terkejutnya Malik bin Dinar ketika mendapati gagak tersebut menyuapi seorang laki-laki yang tangan dakan kakinya terikat. Sang gagak dengan sabarnya menyuapi laki-laki tersebut, dan pergi setelah selesai menyuapi. Malik bin Dinar pun menghampiri laki-laki tersebut dan bertanya, “Siapa kamu?”. Laki-laki itu pun menjawab dengan cerita:
“Aku di antara jamaah haji. Penyamun mengambil semua hartaku, lalu mengikatku dan melemparkanku ke tempat ini. Aku masih sabar selama lima hari dalam kelaparan, kemudian aku berkata, Wahai Dzat yang bersabda di kitab-Nya, Siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya (dalam surah an-Naml, ayat 62). Saat ini aku membutuhkan, kasihilah aku. Setelah mengatakan demikian, Allah mengutus gagak ini. Setiap hari ia memberiku makan dan minum.”
***
Mungkin, kisah di atas yang menjadi salah satu kisah inspirasi banyak orang sehingga ada pepatah di tengah masyarakat yang kemudian ditulis di media sosial, “Allah menjadikan mulut ada jaminan dari-Nya akan ada makanan yang akan dimasukkan”. Pepatah lain mengatakan, “Memikirkan apa yang dimakan oleh anak berarti memikirkan cara mencukur bulu pada anak”.
Pepatah ini dan sejenisnya menggambarkan adanya kepasrahan total atas apa yang akan diberikan Allah. Meyakini bahwa ada jaminan dari Allah atas apa yang akan dimakan oleh makhluknya. Tentunya, tawakkal tidak harus menafikan proses ikhtiar yang harus dijalankan oleh setiap hamba, sebab tawakkal tanpa usaha sama halnya putus asa. Terkecuali memang, kepasrahan total dan penuh keyakinan bahwa Allah akan menanggung segalanya, seperti kepasrahan jenazah di tengah orang-orang yang memandikan.
Dalam hidup, makan memang menjadi kebutuhan tak terhindarkan. Itu hukum alam yang ditetapkan oleh Allah. Hanya masalahnya, apa yang akan dimakan dan dari mana kita bisa makan? Aktivitas bumi yang namapk hidup, mungkin jawaban dari pertanyaan tersebut. Saat ini, orang berlomba-lomba bagaimana caranya bisa makan dengan ragam jenis makananan. Ragam pekerjaan muncul dengan model yang sedemikian rupa. Sepertinya, tidak merasa tenang dalam hidup, karena selalu dikejar oleh pikiran bagaimana bisa makan.
Pada era modern, aktivitas mencari makan tertata sedemikian rapi dan sistematis. Misalnya, pendidikan yang awalnya diarahkan pada pola bagaimana seorang dapat memiliki ilmu pengetahuan dan mengenal akhlak mulia, mulai digeser pada pola kesejahteraan sosial. Sekolah-sekolah menengah atas sampai perguruan tinggi menjadikan jaminan bisa langsung kerja setelah lulus sebagai promosi utama. Sistem berjalan seiring aturan bahwa pekerja harus berijazah minimal SMA, sehingga membentuk stigma masyarakat bahwa untuk makan butuh ijazah. Tanpa ijazah, akan sulit berkerja yang menjadi sumber makan.
Pola pikir demikian secara tidak langsung menghilangkan sifat tawakkal dalam diri. Secara tidak langsung pula, menyingkirkan kekuasaan Allah sebagai pemberi rezeki tunggal. Seolah-olah selembar ijazah adalah dewa penyelamat dari kelaparan, padahal sebelum berijazah pun sebenarnya sudah makan. Burung di alam liar pun bisa makan, tanpa ijazah.
Pada akhirnya, kita temukan setiap tahun banyak orang yang frustasi dan gelisah dalam hidupnya. Faktor frustasi dan kegeliasahan itu adalah ketiadaan rasa pasrah diri atau tawakkal kepada Allah dan terlalu banyak berharap kepada selain Allah. Akhirnya, ketika gagal dalam upaya yang telah dilakukan, kecewa berat dan frustasi menghampiri. Atau bahkan menyalahkan sana sini, termasuk  menyalahkan takdir Allah; beranggapan bahwa Allah berlaku tidak adil terhadap hambanya.
Memang, ketiadaan tawakkal pada diri seseorang akan membentuk pola pikir keputusasaan ketika usahanya tidak berhasil. Faktornya adalah karena usahanya berorientasi hasil, bukan pada ridha Allah. Misalnya, orang tua yang orientasi menyekolahkan anaknya adalah hasil sekolah berupa ijazah dan bisa kerja, akan merasa putus asa ketika sang anak tidak berprestasi di sekolah, apalagi tidak lulus. Berpikir bahwa anaknya tidak memiliki harapan untuk masa depan cerah, karena tidak lulus berarti awal dari petaka kesusahan dan kelaparan.
Pada akhirnya, seperti lupa bahwa ada Allah yang menanggung kebutuhan makhluk di dunia ini. Lupa bahwa untuk sukses tidak hanya melalui ijazah, tapi juga kreasi dan upaya. Lupa akan takdir yang harus diimani oleh semua makhluk. Tidak terima bahwa itu kenyataan yang mesti dihadapi. Sikap ini bisa juga terjadi sudah lulus dan sulit mencari pekerjaan, dan juga yang terkena PHK.
Dalam kehidupan seorang muslim, tawakkal atau pasrah diri atas apa yang akan dilakukan oleh Allah merupakan motivasi terbesar dalam diri. Berbekal tawakkal, segala usaha yang dijalani akan dilandasi dengan penuh keikhlasan. Percaya bahwa hasil dari apa yang usahakan adalah yang terbaik dari Allah. Berhasil atau tidaknya usaha itu soal belakangan, yang terpenting adalah ada usaha sebagai bentuk ikhtiar seorang hamba.
Tawakkal setidaknya solusi bagi manusia yang mendambakan ketengan hidup. Sebab, tawakkal akan membentuk kepribadian seseorang untuk senantiasa ikhlas dan bersyukur atas keberhasilan yang didapat. Menyadari bahwa itu karunia dari Allah, karena sejak awal memasrahkan diri kepada Allah. Jika pun mengalami kegagalan ia akan ikhlas dan menerima keadaan tersebut dan terus berusaha tanpa putus asa.
Efek positif dari tawakkal ini merupakan buah dari apa yang dijanjikan Allah dalam al-Quran. Di antara janji Allah adalah, akan mendapatkan cinta dari-Nya (Q.S. Ali Imran: 159). Ketika Allah mencintai seorang hamba, tentunya Ia akan memberikan yang terbaik dan terindah. Allah juga tidak akan berdiam saat melihat kekasihnya sedang kesulitan. Selain mencintai orang yang tawakkal Allah juga berjanji akan mencukupi segala kebutuhannya (Q.S. ath-Thalaq: 3). Allah menjamin akan menyelesaikan segala urusan. Ketika Allah yang menjamin, mungkinkah sebuah masalah tidak terselesaikan?
Dengan demikian, tawakkal adalah hal tepat untuk meraih ketenangan hidup, sebab apa pun upaya yang dilakukan akan dihadapi dengan ikhlas. Sekolah, misalnya, tidak sekedar agar mendapatkan legalitas ijazah, tapi ikhlas untuk menghilangkan kebodohan. Berdagang dan bertani, dilakukan dengan ikhlas, sehingga  kesuksesan melahirkan syukur dan kegagalan melahirkan sabar. Akan tetapi, yang terpenting  adalah bahwa Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal, yang tentunya tidak akan membiarkan orang yang dicintai sengsara, sebagaimana dalam kisah di atas. Wallahu Alam.

0 comments:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan cerdas. Admin tidak bertanggung jawab atas komentar yang melanggar undang-undang, terlebih bersifat sara dan pornografi.