Sunday, December 31, 2017

Mempersiapkan Generasi Hebat (1/6)

0 comments

Mempersiapkan Generasi Hebat:
Pintar Memilih Pasangan Hidup

Pembicaraan mengenai dunia anak nampaknya tidak akan pernah selesai dibahas, bahkan oleh ahli parenting sekalipun. Dari segala sudut, dunia anak terus diperbincangkan; agama, filsafat dan terlebih dalam ilmu sosial. Dalam dunia pendidikan anak menjadi objek vital yang terus dicarikan formula jitu, bagaimana cara untuk mendidik sehingga dapat melahirkan generasi tangguh dan bermoral. Lahirnya berbagai kurikulum di negeri ini, hingga yang terakhir kurikulum 13 tak lain dalam rangka upaya untuk mencari formula yang tepat menghadapi dunia anak yang super rumit tersebut.
Harus disadari, mendidik seorang anak tidak semudah menjalankan profesi lain. Pendidikan anak tidak hanya cukup dengan setumpuk teori, rumus dan konsep, karena ia adalah fase peralihan yang membutuhkan bimbingan dan praktik. Dari itulah, orang tua sebagai pemegang amanah dari Allah, memiliki tanggung jawab paling besar, terutama seorang ibu yang bisa mengalahkan tugas penting lainnya.
Dalam menyiapkan generasi yang hebat dan tangguh, tentunya pendidikan anak tidak bisa dilakukan dengan cara instan. Ini harus dilakukan melalui proses dan tahapan yang panjang, karena jika dilakukan secara instan bisa jadi hasilnya pun akan serba instan. Dalam Islam, proses melahirkan generasi tangguh ini memiliki beberapa tahapan, tidak hanya saat sang anak lahir, tetapi sebelum proses semua itu, yakni dalam memilih pasangan hidup karena nantinya orang tua adalah sahabat terdekat dari sang anak.
Dengan maksud lain, memilih pasangan hidup yang tepat merupakan salah satu ikhtiar dalam mempersiapkan asupan nutrisi pendidikan moral bagi anak. Orang tua yang menjadi sahabat dekat sang anak diharapkan menjadi penular kebaikan dan memiliki pengaruh yang luar biasa pada anak. Jika tidak tepat mencari pasangan, maka bukan tidak mungkin anak menjadi korban berikutnya.
Al-Quran sebagai kitab pedoman umat Islam demikian gamlang menjelaskan romantisme kehidupan dalam rumah tangga; mulai informasi bahwa manusia diciptakan saling berpasangan hingga relasi suami-istri yang menjadi selimut pelindung antar pasangan. Menyangkut hubungan suami-istri berkaitan dengan anak, al-Quran mengalogkannya dengan bercocok tanam. Demikian al-Quran menyebut:
نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ
“Istri-istri kalian (ibarat) ladang bagi kalian, maka gaulilah ladang kalian bagaimana pun kalian mau…”
Telah maklum bahwa dalam dunia tanam menanam, ada tiga hal yang paling penting dalam keberhasilan bercocok tanam. Unsur terpenting adalah benih dan ladang tempat penanaman, selainnya adalah kemahiran petani. Unsur lainnya, hanyalah bersifat pelengkap, sebagaimana asupan pupuk dan kecukupan air.
Kaitannya dengan generasi tangguh, benih yang akan ditanam harus berkualitas. Berkualitas dalam konteks ini, bukan dari sudut kandungan inti secara lahir sepermanya, melainkan sisi batin dari seperma. Bisa saja, seperma dari laki-laki memiliki kandungan potensial untuk melahirkan anak sehat, tetapi secara mental bisa dikatakan tidak.
Benih yang unggul tentunya berawal dari yang unggul dan baik, sedangkan seperma berawal dari makanan yang masuk ke dalam tubuh yang di antaranya berproses menjadi cairan mani. Untuk melahirkan benih pada seperma yang unggul maka harus diawali oleh sesuatu yang baik. Hal yang paling urgen dalam hal ini adalah makanan yang sarinya akan menjadi seperma.
Secara lahir, apel yang kita makan memiliki kandungan vitamin dan nutrisi yang baik untuk tubuh, tetapi secara batin bisa malah merusak, hanya karena apel didapat melalui cara yang tidak halal. Dari makanan yang tidak halal itulah yang nantinya akan tumbuh tenaga dan daging, termasuk pula seperma. Makanan yang tidak halal inilah yang akan merusak keunggulan sel sperma yang menyebabkan benih tidak potensial untuk melahirkan generasi tangguh.
Untuk itulah, orang tua yang memiliki anak perempuan harus jeli memilih pasangan untuk anaknya. Lelaki yang memiliki kebiasaan makan makanan haram, jelas berpotensi besar menanamkan benih (sperma) tidak sehat secara batin ke dalam rahim anak. Dalam hal ini, deteksi awal pemilik benih unggul adalah lelaki yang memiliki pengetahuan agama yang cukup dengan prilaku sesuai dengan ilmunya.
Adapun bagi laki-laki, sedini mungkin untuk mensterilkan makanan yang dikonsumsi dari unsur haram. Tujuannya adalah untuk menghasilkan benih unggul melalui sterilisasi makanan yang dikonsumsi. Pada konteks inilah, berarti unsur petani profesional dibutuhkan, dan masuk dalam tiga hal dalam mencapai keberhasilan bercocok tanam.
Unsur kedua adalah ladang tempat menanam, yang dalam hal ini adalah istri. Sedemikian unggul benih yang ditanam, jika ladang tidak potensial dan subur benih tidak akan tumbuh secara maksimal. Untuk itulah, seorang laki-laki harus selektif memilih istri, sebagai persiapan dalam penanaman bibit unggul pada ladang subur. Ladang subur berarti tanah mengandung unsur-unsur yang sangat dibutuhkan oleh tanaman, demikian pula pada calon ibu dari anak-anak yang unggul.
Tentunya, bukan hanya kesuburan secara fisik, tetapi juga subur dalam karakter dan sifat. Calon ibu yang baik, berarti mengandung unsur-unsur penting yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan anak. Hal terpenting pada seorang calon ibu adalah sel telur dihasilkan dari makanan yang halal. Pada sekup inilah mengapa Rasulullah lebih menganjurkan nilai keagamaan (ad-Din) untuk didahulukan dalam tiga pilihan terbaik dalam mencari pasangan atau istri.
Tidak hanya dalam memilih pasangan dalam mempersiapkan generasi hebat, saat penanaman benih seperma ke rahim pun tidak boleh sembarangan. Ada anjuran doa yang seharusnya dibaca, agar anak yang akan dikaruniai tidak terkontaminasi oleh pengaruh jahat. Kita perhatikan doa yang dianjurkan Rasulullah untuk dibaca oleh sepasang suami istri saat berhubungan intim.
بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا
“Dengan menyebut asma Allah. Ya Allah jauhkanlah kami dari syetan dan jauhkan syetan dari apa yang Engkau berikan kepada kami.”
Dalam hadis riwayat al-Bukhari ini, Rasulullah juga menyebutkan bahwa dengan doa tersebut, suami istri akan mendapat anak yang tidak menyengsarakan. Sudah maklum, anak bisa jadi membanggakan, dan bisa pula menyengsarakan. Di tengah arus zaman golobal yang demikian mengancam, bukan tidak mungkin kehadiran anak malah menyengsarakan. Kehadirannya bak ranting kering di pohon; dilihat tidak sedap dipandang, dibuang sulit dipatahkan.
Intinya, untuk melahirkan generasi hebat dan unggul tidak bisa dilakukan dengan cara yang instan. Perlu memperhatikan tahapan-tahapan penting dalam mencapai keinginan dimaksud. Ulasan di atas merupakan awal dari beberapa tulisan selanjutnya dalam mengimpikan generasi hebat untuk masa yang akan datang. Insya-Allah.

0 comments:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan cerdas. Admin tidak bertanggung jawab atas komentar yang melanggar undang-undang, terlebih bersifat sara dan pornografi.