Sunday, December 31, 2017

Mempersiapkan Generasi Hebat (2/6)

0 comments

Pada edisi sebelum ini telah dijelaskan bahwa dalam mencetak generasi hebat tidak bisa dilakukan dengan cara instan. Diperlukan tahapan-tahapan penting yang harus dilakukan, mulai bagaimana mencari pasangan hingga saat berhubungan intim. Asupan makanan halal pun diperlukan saat anak dalam kandungan, tidak hanya yang mengandung kalsium atau nutrisi tertentu. Lantas bagimana ketika anak saat lahir?
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa anak lahir dalam keadaan fitrah, bersih tanpa noda. Dalam riwayat Imam Bukhari dan Ahmad disebutkan, “Setiap bayi yang dilahirkan membawa fitrah, (hanya) kedua orangtuanya menyebabkan ia menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi”. (HR. Bukhari dan Ahmad.).
Banyak penafsiran tentang makna fitrah itu sendiri, tetapi pada intinya sama, yaitu nilai kebaikan dan kecenderungan pada manusia untuk berperilaku baik sesuai dengan tuntunan-Nya, serta mengakui Allah sebagai Tuhannya, yaitu Islam. Fitrah ini juga bisa terhambat, tersumbat dan mungkin mati jika tidak sempat tumbuh dan berkembang. Rasulullah melanjutkan sabda di atas, “……hanya saja orang tuanya yang menjadikan Yahudi dan Nashara dan Majusi”, karena mungkin sang anak tidak mampu mengembangkan fitrahnya karena tersumbat oleh didikan orangtuanya.
Sebagaimana komentar Ibn Hajar terkait dengan hadis tersebut dalam Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari yang mengutip beberapa komentar mengenai keberadaan fitrah dan pengaruh dari luar jiwa anak. Dalam madzhab yang shahih, kebenaran Allah sebagai Tuhan alam semesta (Rububiyah) sebenarnya sudah tertanam kuat dalam diri anak. Hanya saja, faktor luar (al-Kharijiy) atau dalam kata lain lingkungan yang mempengaruhi potensi kebenaran tersebut menjadi terhambat.
Sementara itu, orang yang ahli dalam pendidikan anak, pasti sepakat bahwa lingkungan sangat berpengaruh besar terhadap karakter anak. Orang yang paling dekat dengan mereka, tentu adalah orang tua. Merekalah yang harus mempengaruhi anak, sehingga anak tumbuh menjadi bibit potensial dan besar dalam bingkai moral dan keimanan.
Dengan maksud lain, meskipun anak telah lahir membawa ikrar tauhid dan keimanan atas Allah sebagai tuhannya, pengaruh lingkungan sangat berperan dalam perkembangan anak. Sebab, fitrah hanyalah ikrar, belum masuk pada pengetahuan. Untuk itu, manusia membutuhkan proses pendidikan untuk menggali potensi yang terpendam dalam diri manusia. Dengan kata lain, potensi itu harus diwujudkan melalui pendidikan, terutama lingkungan pendidikan agama. Ini dimaksudkan agar potensi tersebut memungkinkan berkembang sesuai dengan ajaran-ajaran agama berupa cahaya wahyu.
Inilah di antara hikmah diutusnya para rasul yang mengawali proses pendidikan agama. Pendidikan ini berlanjut melalui proses dakwah dari para ulama dan kewajiban bagi semua orang tua untuk mendidik anak-anaknya. Pendidikan orang tua adalah faktor yang paling mendukung ke arah penggalian potensi tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas. Karena bagaimanapun, faktor lingkungan di rumah mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan kehidupan kehidupan agama pada seseorang.
Memang, manusia terlahir ke dunia tidak memiliki kemampuan apa pun kecuali menangis, diam dan tidur. Dia tidak bisa makan dan minum dengan sendirinya seperti pada anak ayam, sesaat setelah menetas langsung bisa makan dan minum. Meskipun demikian, dalam diri bayi terdapat potensi diri yang bersifat fisik atau pesikis melebihi hewan lain. Seorang anak berpotensi bisa membaca, menulis, bersepeda, makan, dan berkarya yang dikendalikan oleh akal dan pikiran serta sebagian dari sifat-sifat Tuhan yang telah dikaruniakan. Tergantung, bagaimana nantinya sang anak mampu mengembangkan diri sehingga potensi itu dapat dirasakan setelah ia dewasa. Karena itulah, aktivitas pembelajaran praktis diperlukan sejak manusia berada di pangkuan sang ibu. Sabda Nabi,"Mencari ilmu dimulai dari buaian ibu hingga liang lahat."
Namun masalahnya, indra bayi yang baru lahir masih belum berfungsi dengan sempurna sedang tuntutan belajar sejak dalam buaian. Penglihatan sang bayi pun belum berfungsi dengan baik karena menunggu proses penyesuian dengan alam yang terang benderang setelah berada di kegelapan rahim ibu. Di sinilah kita menangkap kekuasaan dzat Pencipta dengan difungsikannya indra pendengaran. Agar manusia merasa siap dengan alam yang akan dihadapi, informasi tentang lingkungannya telah ia dapat melalui indra pendengaran yang berfungsi sejak lahir. Bahkan ada yang mengatakan sejak cabang bayi masing dalam kandungan. Sebab itu, rangsangan serta pembelajaran sudah dapat dilakukan melalui suara yang diperdengarkan sejak masih dalam kandungan saat usia kandungan telah mencapai empat bulan.
Setelah lahir, fungsi pendengaran lebih peka sehingga pembelajaran melalui suara lebih sudah dapat dilakukan. Dalam Islam dianjurkan untuk menyambut kelahiran manusia dengan suara adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri. Inilah pembelajaran awal bagi sang bayi sebelum diajarkan yang lain, seperti makan, minum, tertawa dan sebagainya. Adzan yang berisikan takbir dan dua kalimah syahadat memberi pelajaran agar sang bayi mengenal kebesaran Allah, mengesakan serta mengimani-Nya. Kemudian ia mengetahui nama rasul-Nya, Nabi Muhammad yang harus ia idolakan dan diikuti jejaknya.
Panggilan untuk shalat (Hayya 'ala ash-shalah/mari tunaikan shalat) mengajarkan pada sang bayi agar tidak melupakan kewajibannya sebagai bentuk pengabdian seorang hamba. Shalat yang nantinya harus dijalankan, dapat memberikan manfaat yang luar biasa dalam membentuk karakter dan keperibadian manusia berupa pengasahan spiritual dengan gerakan yang mengacu pada Sidratul Muntaha. Membangun ajaran tentang pentingnya memiliki keperibadian tawadlu' dengan menghilangkan sikap congkak. Hal penting lain dari kewajiban shalat adalah aspek pendidikan terhadap manusia, melalui kewajiban menyucikan diri secara zhahir maupun batin sebelum shalat, serta menoleh ke kiri dan ke kanan sambil mengucapkan salam (perdamaian) agar ia tidak lupa dengan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya setelah melakukan hubungan vertikal dalam ibadahnya.
Kemudian, panggilan menuju kebahagiaan (Hayya 'ala al-Falah/mari menuju kebahagiaan) memberikan pelajaran agar sang bayi mengenal kata optimis dalam menghadapi alam barunya yang dipenuhi oleh tantangan. Meyakinkannya bahwa hiidup bukanlah sebuah kesengsaraan melainkan kebahagiaan. Setelah kebahagiaan dunia yang sifatnya sesaat, berlanjut pada kebahagiaan abadi. Hanya yang perlu diingat oleh sang bayi, kebahagiaan abadi tersebut dapat diraih melalui ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya melalui perintah melaksanakan shalat.
Dengan maksud lain, mengumandangkan adzan pada telinga anak merupakan pendidikan dasar tentang iman. Walaupun pendidikan tentang iman tidak cukup dengan hal itu, melainkan dengan langkah-langkah konkrit lainnya, tetapi paling tidak perkenalan awal sudah dilakukan sebagai harapan bahwa anak tumbuh dalam bingkai akhlak dan keimanan.[]
M. Masyhuri Mochtar/BS

0 comments:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan cerdas. Admin tidak bertanggung jawab atas komentar yang melanggar undang-undang, terlebih bersifat sara dan pornografi.