Sunday, December 31, 2017

Mempersiapkan Generasi Hebat (3/6)

0 comments

Pengenalan awal tentang keimanan melalui kumandang adzan saat kelahiran pada telinga bayi, belum dirasa cukup dalam menanamkan keimanan pada anak. Masih ada tahapan lain selanjutnya dalam mencetak generasi hebat. Hal terpenting adalah dengan mendahulukan pendidikan iman sebelum memberikan pengetahuan yang lain, termasuk apa yang terkandung dalam al-Quran.
Mendahulukan pendidikan iman sebelum pendidikan yang lain ini, merupakan proses pendidikan Islam terbaik yang telah dilakukan pada masa awal kemunculannya. Proses pendidikan yang kemudian membentuk karakter kuat umat Islam pada priode awal. Sebelum pendidikan diarahkan pada kandungan al-Quran, Rasulullah menanamkan keimanan terlebih dahulu pada hati para sahabat beliau. Sebagaimana diceritakan oleh Sahabat Jundub yang berbunyi:
عَنْ جُنْدُبِ بْنِ عَبْدِ اللهِ ، قَالَ : كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ ، فَتَعَلَّمْنَا الإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ , فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا فَإِنَّكُمُ الْيَوْمَ تَعَلَّمُونَ الْقُرْآنَ قَبْلَ الإِيمَانِ.
“Dari Jundub bin Abdillah Al Bajali berkata: Dulu kami saat bersama Nabi shalallahu alaihi wassalam sebelum dewasa, kami belajar iman sebelum kami belajar al-Quran. Ketika kami belajar al-Quran, maka bertambahlah iman kami. Adapun kalian hari ini belajar al-Quran sebelum Iman.” (H.R. Ibn Majah, Thabrani, dan Baihaqi).
Kita perhatikan pada hadis di atas mengenai model pendidikan Rasulullah. Maksud dari Hazawirah adalah anak sebelum baligh. Dengan demikian, berarti pada usia rata-rata 10 tahun Rasulullah telah menanamkan rasa iman pada mereka. Setelah keimanan terasa kuat pada mereka, baru diajarkan al-Quran sehingga keimanan mereka bertambah. Inilah tahapan dalam pendidikan Islam yang kemudian menciptakan kejayaan dalam moral dan politik pada kejayaan Islam awal.
Hal seperti ini, tampak berbeda dengan kondisi pendidikan saat ini, saat orang tua berlomba-lomba menanamkan ilmu pengetahuan sebelum keimanan begitu kuat pada hati anak. Kalau tidak mampu memahami al-Quran dengan baik, orang tua demikian susah dan galau. Padahal, ada yang lebih penting dari itu, yakni keimanan pada hati anak. Setelah keimanan menjadi kuat di hati mereka, baru pemahaman tentang al-Quran bisa disajikan, seperti cara beribadah dan lain sebagainya.
Sebagaimana digambarkan oleh sahabat Jundub, rendahnya kualitas para tabiin saat itu, karena belajar al-Quran sebelum keimanan kuat di hati mereka. Padahal, rendahnya kualitas tabiin yang digambarkan oleh sahabat Jundub hanyalah tahapan yang terbalik dalam pendidikan anak, tidak meninggalkan keduanya sama sekali. Lantas, bagaiamana dengan model pendidikan saat ini? Kenyataan moralitas pemuda saat ini, sudah bisa menjadi gambaran konkret dari pola pendidikan terbalik, atau bahkan tidak sama sekali; sepi dari penanaman iman dan jauh dari pendidikan agama melalui al-Quran.
Dengan demikian, pendidikan keimanan merupakan keniscayaan yang mendasar untuk mencetak generasi tangguh pada masa yang akan datang. Keimanan ini meliputi kepercayaan terhadap Allah, Nabi Muhammad sebagai utusan, malaikat, kitab-kitab-Nya, adanya hari akhir dan takdir Allah. Semua komponen dalam rukun iman harus diperkenalkan sedini mungkin, terutama menyangkut kepercayaan bahwa Allah adalah pencipta manusia dan alam semesta.
Dengan demikian, pendidikan iman hanya bisa dilakukan di dalam lingkungan keluarga, sebelum mengarah pada pendidikan Islam yang lain dalam lingkungan sekolah. Dengan kata lain, dalam lingkungan keluarga, aspek keimanan harus berada dalam keseharian anak. Orang tualah yang memegang peranan yang sangat penting dalam  hal ini, karena dalam lingkungan keluarga anak tumbuh dan memperoleh pendidikan awal sebelum pendidikan lainnya. Terlebih, pendidikan yang diberikan di lingkungan keluarga berbeda dengan pendidikan yang dilaksanakan di sekolah, karena pendidikan dalam keluarga bersifat informal yang tidak terikat oleh waktu dan program pendidikan secara khusus.
Proses pendidikan iman anak sejak dini ini sebenarnya merupakan usaha pendampingan untuk meningkatkan mutu hidup beriman seorang anak. Peran orang tua sebagai pendidik utama, lebih sebagai usaha untuk menciptakan situasi dan suasana hidup beriman sedemikian rupa, sehingga membantu dan mendukung tumbuh kembangnya iman anak. Mempermudah berkembangnya rasa iman pada anak, khususnya tentang keberadaan Allah yang telah mewujudkan dirinya.
Lantas bagaimana cara kita membentuk lingkungan sehat pada iman seorang anak? Hal yang mungkin bisa dilakukan adalah dengan melakukan pembimbingan yang sangat bisa diterima oleh akal anak; bagaimana memperkenalkan Allah kepada mereka, memperkenalkan Nabi Muhammad sebagai Rasulullah yang harus dijadikan panutan, memperkenalkan bahwa al-Quran adalah kitab yang harus dijadikan rujukan dalam beramal, serta bagaimana kelak setelah kematian dan takdir Allah yang meliputi kehidupan alam semesta.
Memang sulit membicarakan hal yang abstrak kepada anak, karena barometer otak anak adalah yang nampak di hadapan mereka, sementara barometer keimanan adalah percaya pada yang abstrak (ghaib). Untuk itu, sentuhan awal yang perlu dilakukan adalah dengan memperdengarkan kata Allah dalam setiap keseharian, seperti mengucapkan ya Allah, Alhamdulillah, Bismillah dan Subhanallah. Melalui dzikir-dzikir itu, anak akan mengenal kata lain selain bahasa keseharian.
Kedua, dengan memperkenalkan sifat-sifat wajib bagi Allah, sebab untuk mengenal hal yang abstrak hanyalah dengan mengetahui sifat-sifat pada hal tersebut. Dalam hal ini, sifat 20 yang wajib bagi Allah dan merupakan bagian dari aqaid khamsin bisa diperkenalkan pada anak. Anak perlu tahu bahwa Allah lah yang berkuasa atas dunia, langit dan seisinya ini.
Dalam hal ini, tidak perlu risau ketika anak bertanya, seperti apa Allah itu? Biarkan hal itu menjadi pertanyaan besar bagi sang anak, tidak perlu dijawab dengan beberapa dalil dalam ilmu tauhid, karena dia memang belum mampu menangkap informasi itu dengan baik. Yang terpenting adalah ia percaya bahwa Allah itu ada.
Selanjutnya, perkenalkan kepada mereka tentang keberadaan Nabi Muhammad sebagai rasul dari Allah. Ceritakan kepada anak tentang sikap-sikap baik Rasulullah, seperti kejujuran dan gelar al-Amin yang disematkan, serta ajaran-ajaran yang dibawa Rasulullah. Dalam bingkai cerita, anak tentu akan lebih menangkap materi ajaran, karena karakter anak memang memiliki kecenderungan menyukai cerita.
Perkenalkan pula kepada anak bahwa al-Quran adalah kalam ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Ajaran al-Quran diperuntukkan kepada kita untuk diamalkan. Kelak amal kita akan dipertanggungjawabkan setelah hari kiamat. Wujudnya kita adalah kekuasaan Allah, melalui kepastian atau takdir dari Allah.
Tentunya, ini merupakan salah satu cara untuk menanamkan rasa keimanan kepada anak. Kondisi dan situasi antara satu keluarga dengan keluarga yang lain bisa berbeda. Oleh karena itu, orang tua dituntut untuk lebih kreatif dalam mengembangkan pendidikan anaknya. Terutama bagi seorang ibu yang dekat dengan kehidupan anak. Ibulah yang paling berperan dalam membentuk karakter keimanan anak, karena ibu adalah lingkungan pertama dalam kehidupan anak saat di rahim.


0 comments:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan cerdas. Admin tidak bertanggung jawab atas komentar yang melanggar undang-undang, terlebih bersifat sara dan pornografi.