Sunday, December 31, 2017

Mempersiapkan Generasi Hebat (5/6)

0 comments

Hindarkan Anak dari Makanan Haram

Dalam mencetak generasi hebat, tidak cukup dengan menjaga dan memberikan teladan yang baik, ada hal penting lain yang perlu diperhatikan oleh orang tua, yaitu asupan nutrisi dan gizi yang halal bagi anak. Nutrisi dan gizi bagi anak memang penting dalam perkembangan tubuh fisik, tetapi kehalalan sebuah nutrisi dan gizi merupakan hal yang jauh lebih penting karena menyangkut moral dan akhlak anak. Moralitas dan mental anak tengantung pada hukum makanan; halal atau tidak?
Mental dan moral seorang anak memang tidak bisa dilihat secara kasat mata, tetapi bisa dirasakan melalui tingkah lakunya. Artinya, mental dan moral anak bersifat non fisik, sehingga asupan nutrinya adalah non fisik pula, yaitu kehalanan pada makanan yang masuk ke dalam tubuh anak. Bisa jadi, buah-buahan yang diberikan kepada anak mengandung nutrisi yang memang dibutuhkan oleh tubuh anak, tetapi apakah cukup mampu untuk mencukupi kebutuhan ruhiyahnya?
Untuk menggambarkan dari hal di atas, sebuah cerita yang dialami oleh seorang sufi terkenal, Abu Yazid al-Bisthami. Sebelum ia menjadi seorang sufi sejati, pernah ia merasa galau dan resah. Bertahun-tahun lamanya ia beribadah, tetapi belum menemukan rasa nikmah dan kelezatan beribadah. Ia bingung dengan keadaan itu, dan terus mencari penyebab atas apa yang ia alami, hingga kemudian ia menemui ibunya.
Saat ia itulah, ia bertanya kepada sang ibu, “Wahai ibu, sesungguhnya aku tidak menemukan rasa manis pada ibadah dan ketaatan yang aku lakukan selama ini. Coba ibu pikirkan, apakah ibu pernah memakan makanan haram, pada saat aku berada di dalam kandungan atau saat menyusuiku?”
Mendapat pertanyaan seperti itu, ibu Abu Yazid berpikir lama, kemudian berkata, “Wahai anaku. Saat engkau berada di dalam perutku, aku naik ke atas atap. Di sana aku mendapati sebuah keju, dan aku menginginkannya. Aku makan sejumput kecil dari keju tersebut tanpa mendapat izin dari pemiliknya.” Abu Yazid berkata, “Tidak lain ini penyebabnya. Tolong ibu pergi ke pemilik keju tersebut dan memberitahukan apa yang telah ibu lakukan.”
Pergilah sang ibu ke rumah pemilik keju tersebut, dan ia mengabarkan atas apa yang telah ia lakukan beberapa tahun yang lalu. Ternyata, sang pemilik keju merelakan apa yang telah ibu Abu Yazid lakukan. Sang ibu bahagia dan mengabarkan kepada putranya bahwa ia telah mendapat rela dari pemilik keju. Sejak itu, Abu Yazid merasakan nikmat ketaatan kepada Allah.
Kisah lainnya, ada seorang murid Imam Malik mengalami kegalauan berpikir dalam belajar. Sebagaimana diketahui, dalam pandangan Imam Malik, anjing bukanlah bagian dari hewan berkualitas najis berat, berbeda dengan madzhab Syafiiyah. Suatu ketika, sang murid tersebut minum susu menggunakan cawan yang telah dijilat oleh anjing. Sehabis itu, sang murid mengalami kebuntuan nalar. Selama 40 hari, ia mengalami kegalauan dalam hidup dan pencarian ilmu agama.
Dari dua kisah ini, kita temukan hikmah bahwa sedemikian dahsyat pengaruh makanan haram terhadap kualitas ibadah seseorang. Secuil makanan haram dari keju yang dimakan oleh ibu Abu Yazid mampu menghalangi kenikmatan ibadah sang anak. Tidak bisa dibayangkan, bagaimana jika sepiring atau bahkan sepanjang hidup anak disuguhi dengan makanan yang haram. Bagaimana mungkin akhlak dan mental anak terbentuk dengan baik, jika terus menerus disugui dengan nutrisi haram?
Pengaruh makanan haram dan halal terhadap mental anak, memang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Akan tetapi, bisa dirasakan bahwa nafkah yang diberikan pada anak melalui pekerjaan yang tidak diridhai Allah dapat meracuni mentalnya. Bisa mungkin, darah yang dihasilkan dari makanan haram tersebut mengalir di tubuhnya dan membuat ia terus gelisah. Kegelisahan itulah yang kemudian berujung pada pelampiasan dan menjerumuskan sang anak pada pekerjaan dosa. Mungkin inilah gambaran dari sabda Nabi yang artinya, “Setiap daging yang tumbuh dari sumber yang haram, api neraka lebih berhak baginya” (HR. Ahmad)
Sederet dalil, baik dari al-Quran atau hadis, yang menjelaskan bagaimana sisi hukum pada makanan berpengaruh besar pada mental seseorang. Ayat berikut dikira cukup mewakili sebagai dalil atas pengaruh dua sisi hukum pada makanan: haram dan halal.
يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang thayyib (yang baik), dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui pada apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al Muminun: 51).
Ibn Katsir dalam tafsirnya (10: 126) mengutip pendapat Said bin Jubair dan Adh Dhohak mengatakan bahwa maksud kata thayyib pada ayat tersebut adalah makanan yang halal. Ibn Katsir juga menjelaskan bahwa penyandingan dua perintah, makan makanan halal dan mengerjakan amal saleh, memberi isyarat bahwa makanan halal adalah pembangkit amal shaleh. Oleh karena itu, para Nabi benar-benar memperhatikan bagaimana memperoleh yang halal. Tentunya, hal ini akan berlaku sebaliknya.
Pada ayat yang lain, Allah juga berfirman,
وَآَتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا
“Berikanlah mas kawin kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mas kawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang hani (baik) lagi maria (baik akibatnya).” (QS. An Nisa': 4).
Titik tekan pada ayat ini ada pada dua kata, yaitu hani dan marîa. Al-Qurthubi di antara ulama yang membahas hal ini dengan menyebut pendapat sebagai ulama tafsir (Tafsir Al Qurthubi, 5:27). Dalam kitabnya, al-Qurthubi mengatakan,  “Kata hani ialah yang baik lagi enak dimakan dan tidak memiliki efek negative, sedangkan marîa adalah efek samping setelah dimakan, mudah dicerna dan tidak menimbulkan peyakit atau gangguan.”
Dalam hal mencetak generasi hebat, di antara hal yang harus dilakukan adalah menghindarkan anak dari makanan haram. Dalam hal ini, peran ayah yang berkewajiban untuk memberi nafkah pada keluarga sangat penting dalam menyortir segala rezeki yang didapat. Ayah, yang menjadi sumber ekonomi keluarga tidak boleh memikirkan bagaimana keluarganya kenyang dan bahagia atas harta yang melimpah. Melainkan pula memikirkan, apakah pekerjaan yang telah ia lakukan legal dalam agama sehingga berkualitas halal? Termasuk juga apakah tergolong najis atau tidak, sebagai kisah murid Imam Malik di atas.
Seorang ayah harus benar-benar menjamin bahwa makanan anak seratus persen halal, karena sedikit saja tercampur dengan yang haram maka anak akan merasakan akibat buruknya. Darah yang mengalir di tubuhnya terkontaminasi, daging terbentuk dari zat haram sehingga menutup rahmat Allah. Jika demikian, kewajiban orang tua tidak sebatas memberikan makan, bimbingan berikut fasilitas lainnya pada kepada keluarga. Ada hak anak yang wajib diperhatikan oleh orang tua, terkait dengan makanan yang diberikan.


0 comments:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan cerdas. Admin tidak bertanggung jawab atas komentar yang melanggar undang-undang, terlebih bersifat sara dan pornografi.