Tuesday, January 23, 2018

Gara-Gara Najis, Majusi Masuk Islam

0 comments

Diriwayatkan bahwa Imam Nu'mān bin Tsābit (Abu Hanīfah) hendak berkunjung ke rumah seorang majusi, penyembah berhala, guna menagih hutang. Setibanya di depan pintu rumah majusi tersebut, beliau mendapati sandalnya telah menginjak najis. Akhirnya, beliau mengibaskan sandalnya, tapi tanpa diduga najis tadi mengenai tembok rumah si majusi.

Sontak saja, beliau bingung, apa yg hendak ia lakukan sembari bergumam, "Jika aku membiarkan najis ini maka akan merusak pemandangan tembok, tapi jika aku menggosoknya, maka debu tembok itu akan runtuh (berkurang)."

Akhirnya, beliau pun mengetuk pintu. Tidak lama berselang seorang budak perempuan milik si majusi membukakan pintu. Beliau berkata, "Katakan pada majikanmu bahwa Abu Hanīfah menunggu di depan pintu."

Si majusi pun keluar dengan anggapan bahwa Abu Hanifah akan menagih hutangnya. Saat berhadapan, dia langsung meminta maaf dan mencari alasan guna menunda pembayaran hutangnya. Sang Imam pun membalas, "Ada yang lebih penting dari itu". Beliau menuturkan peristiwa tadi (mengibaskan najis yang kemudian mengenai tembok rumah si majusi) dan bertanya bagaimana cara mensucikannya.

Mendapat cerita itu, spontan si majusi berkata: "Maka aku akan memulai dengan mensucikan diriku sendiri," sembari mengikrarkan diri memeluk agama Islam.

Fenomenal. Ada banyak pesan inspiratif yang terkandung di dalam kisah ini. Kita bisa memahaminya dari yang paling urgen, yaitu bahwa setiap perbuatan manusia memiliki dampak. Maka dari itu jangan pernah kita meremehkan ketaatan dan kemaksiatan sekecil apapun, tersebab kita tidak tahu dari perbuatan kita yang mana yang akan mendatangkan Ridha Allāh dan juga murka-NYA.

Kedua, umat Islam sudah lama bersikap toleransi antar umat beragama. Dalam urusan dunia, hutang piutang dan jual beli, semuanya berjalan dengan baik, sejak masa Nabi. Namun kemudian, toleransi itu seolah hilang akibat gempuran media yang mencitrakan Islam sebagai agama yang kering toleransi. Toleransi hanya milik mereka, sementara orang lain bukan.

Kisah disarikan  dari Tafsir Mafatih al-Ghoib.

0 comments:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan cerdas. Admin tidak bertanggung jawab atas komentar yang melanggar undang-undang, terlebih bersifat sara dan pornografi.